sikap kritis mahasiswa terhadap hoax dimedia sosial
MAKALAH
SIKAP KRITIS MAHASISWA TERHADAP HOAX DI MEDIA SOSIAL
DISUSUN :
KENI APRILIANO ( 2019028 )
DOSEN PENGAMPU :
Syaiful Abid, M.Pd.
PRODI STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN BAHASA DAN SENI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK. INDONESIA
STKIP PGRI LUBUKLINGGAU
2020
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulilah Penulis ucapan atas kehadirat Allah yang maha Esa atas ridho dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Makalah ini dengan penuh keyakinan serta usaha maksimal. Semoga dengan terselesaikannya tugas ini dapat memberi pelajaran positif bagi kita semua.
Selanjutnya penulis juga ucapan terima kasih kepada Bapak dosen Syaiful Abid, M.Pd. mata kuliah Berbicara Dialektif yang telah memberikan tugas Makalah ini kepada kami sehingga dapat memicu motifasi kami untuk senantiasa belajar lebih giat lagi dan menggali ilmu lebih dalam khususnya mengenai ‘’ SIKAP KRITIS MAHASISWA TERHADAP HOAX DI MEDIA SOSIAL’’sehingga dengan ini kami dapat menemukan hal baru yang belum kami ketahui.
Terima kasih juga kami sampaikan atas petunjuk yang di berikan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Makalah ini dengan usaha semaksimal mungkin. Terakhir kali sebagai seorang manusia biasa yang mencoba berusaha sekuat tenaga dalam penyelesaian Makalah ini, tetapi tetap saja tak luput dari sifat manusiawi yang penuh khilaf dan salah, oleh karena itu segenap saran penulis harapan dari semua pihak guna perbaikan tugas serupa di masa mendatang.
Lubuklinggau, April 2020
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………..ii
BAB 1 PENDAHULUAN
Latar belakang…………………………………………………………….1
Rumus masalah…………………………………………………………….1
Tujuan……………………………………………………………………….1
Manfaat…………………………………………………………………….2
BAB 2 PEMBAHASAN
Pengetian media sosial……………………………………………………3
Pengertian hoax…………………………………………………………….4
Jenis jenis hoax……………………………………………………………5
Cara kritis mahasiswa hadapi hoax………………………………………6
Cara membangun sikap kritis ……………………………………………8
Mengembangkan pemikiran kritis mahasiswa………………………….10
Mengatasi berita hoax……………………………………………………….11
BAB 3 PENUTUP
Kesimpulan………………………………………………………………..12
Saran…………………………………………………………………….12
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………13
BAB 1
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Berita hoax sekarang ini sedang marak tersebar di berbagai media. Baik itu media cetak maupun media online. Mirisnya, kebanyakan dari masyarakat kurang peduli dengan adanya hal tersebut. Kebanyakan dari masyarakat bisa dengan mudah mempercayai berita hoaxdan tak segan-segan untuk menyebarluaskan kepada khalayak. Berita hoax adalah berita palsu yang diada-adakan atau diputarbalikkan dari realitas sesungguhnya. Banyak kasus atau peristiwa yang sebenarnya tidak terjadi namun diangkat menjadi sebuah berita dan dikemas sebaik mungkin agar khalayak tertarik untuk membacanya.Berita hoax banyak tersebar di berbagai media. Mulai dari broadcast message, media cetak, maupun media online. Bahkan beberapa media online mainstream pun banyak mengakat berita-berita hoax untuk dijadikan informasi bagi khalayak. Sebagai masyarakat modern dan berpendidikan, kita harus pandai dalam menggali informasi. Kita wajib membaca dengan teliti dan menelusuri sumber dari berita tersebut dan yang terpenting adalah jangan terlalu mudah untuk menyebarluaskan berita tersebut sebelum berita tersebut diketahui keasliannya
B.Rumus masalah
1.Apa itu media soial ?
2.Apa itu hoax ?
3.Apa jenis hoax ?
4.Bagaimana kritis mahasiswa hadapi hoax ?
5.Bagaimana membangun sikap kritis ?
6.Bagaimana mengembangkan sikap kritis ?
7.Bagaimana mengatasi berita hoax ?
C.Tujuan
1.Mengetahui apa itu media social
2.Mengetahui apa itu hoax
3.Mengetahui jenis hoax
4.Mengetahui cara kritis mahasiswa hadapi hoax
5.Mengetahui cara membangun sikap kritis
6.Mengetahui cara mengembangkan sikap kriris
7.Mengetahui mengatasi berita hoax
D.Manfaat
Mengetahui kita sebagai mahasiswa bersikap kritis saat menghadapi sebuah berita hoax di media social dan membentuk strategi menghadapi hoax
BAB 2
PEMBAHASAN
1.Pengetian media social
Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.
Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun di atas dasar ideology dan teknologi web 2.0 dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content”.
Jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan komunikasi. Jejaring sosial terbesar antara lain Facebook, Path, Instagram, myspace dan twitter. Jika media tradisional menggunakan media ceak dan media broadcast, maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dengan member kontribusi dan feedback / umpan balik secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.
Saat teknologi internet dan mobile phone makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses facebook atau twitter misalnya, bisa dilakukan dimana saja. Karena kecepatan media sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa konvensional dalam menyebarkan berita-berita.
Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang bisa memiliki media sendiri. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan sosial media dan jejaring internet. Kita sebagai pengguna sosial media dengan bebas mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis dan berbagai model content lainnya.
Media sosial mempunyai ciri – ciri sebagai berikut :
1.Pesan yang di sampaikan tidak hanya untuk satu orang saja namun bisa keberbagai banyak orang contohnya pesan melalui SMS ataupun internet.
2.Pesan yang di sampaikan bebas, tanpa harus melalui suatu Gatekeeper.
3.Pesan yang di sampaikan cenderung lebih cepat di banding media lainnya.
4.Penerima pesan yang menentukan waktu interaksi.
2.Pengertian hoax
Hoax adalah informasi palsu, berita bohong, atau fakta yang diplintir atau direkayasa untuk tujuan lelucon hingga serius (politis).
Secara bahasa hoax (synonyms: practical joke, joke, jest, prank, trick) adalah lelucon, cerita bohong, kenakalan, olokan, membohongi, menipu, mempermainkan, memperdaya, dan memperdayakan.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI), hoax diterjemahkan menjadi hoaks yang diartikan dengan “berita bohong”.
Dalam Kamus Jurnalistik, saya mengartikan Berita Bohong (Libel) sebagai berita yang tidak benar sehingga menjurus pada kasus pencemaran nama baik.
Istilah lain berita bohong dalam konteks jurnalistik adalah Berita Buatan atau Berita Palsu (Fabricated News/Fake News).
Hampir sama dengan berita bohong, berita buatan adalah pemberitaan yang tidak berdasarkan kenyataan atau kebenaran (nonfactual) untuk maksud tertentu.
Dengan demikian, dalam dunia jurnalistik, hoax bukanlah hal baru.
Hoax bertumbuh-kembang seiring dengan popularitas media sosial.
Media sosial memungkinan semua orang menjadi publisher atau penyebar berita, bahkan “berita” yang dibuatnya sendiri, termasuk berita palsu atau hoax.
Hoax umumnya bertujuan untuk “having fun” atau humor. Namun, hoax juga bisa dijadikan alat propaganda dengan tujuan politis, misalnya melakukan pencitraan atau sebaliknya, memburukan citra seseorang atau kelompok.
Dewan Pers sampai melakukan sertifikasi media guna memerangi hoax. Padahal, menurut survei, hoax lebih banyak muncul dan tersebar di media sosial.
3.Jenis jenis hoax
1) Satire atau parodi
Konten jenis ini biasanya tidak memiliki potensi atau kandungan niat jahat, namun bisa mengecoh.
Satire merupakan konten yang dibuat untuk menyindir pada pihak tertentu. Kemasan konten berunsur parodi, ironi, bahkan sarkasme. Secara keumuman, satire dibuat sebagai bentuk kritik terhadap personal maupun kelompok dalam menanggapi isu yang tengah terjadi. Sebenarnya, satire tidak termasuk konten yang membahayakan. Akan tetapi, sebagian masyarakat masih banyak yang menanggapi informasi dalam konten tersebut sebagai sesuatu yang serius dan menganggapnya sebagai kebenaran.
2) Misleading content(konten menyesatkan)
Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.
3) Imposter content(konten tiruan)
Imposter content terjadi jika sebuah informasi mencatut pernyataan tokoh terkenal dan berpengaruh. Tidak cuma perorangan, konten palsu ini juga bisa berbentuk konten tiruan dengan cara mendompleng ketenaran suatu pihak atau lembaga.
4) Fabricated Content (konten palsu)
Fabricated content terbilang menjadi jenis konten palsu yang paling berbahaya. Konten ini dibentuk dengan kandungan 100% tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara fakta. Biasanya, fabricated content berupa informasi lowongan kerja palsu dan lain-lain.
5) False connection(koneksi yang salah)
Ciri paling gamblang dalam mengamati konten jenis ini adalah ditemukannya judul yang berbeda dengan isi berita. Konten jenis ini biasanya diunggah demi memperoleh keuntungan berupa profit atau publikasi berlebih dari konten sensasional.
6) False context(konten keliru)
False context adalah sebuah konten yang disajikan dengan narasi dan konteks yang salah. Biasanya, false context memuat pernyataan, foto, atau video peristiwa yang
pernah terjadi pada suatu tempat, namun secara konteks yang ditulis tidak sesuai dengan fakta yang ada.
Manipulated content (konten manipulasi)
7) Manipulated content atau konten manipulasi biasanya berisi hasil editan dari informasi yang pernah diterbitkan media-media besar dan kredibel. Gampangnya, konten jenis ini dibentuk dengan cara mengedit konten yang sudah ada dengan tujuan untuk mengecoh publik.
4.Cara kritis mahasiswa hadapi hoax
Mahasiswa termasuk salah satu pengguna media sosial dalam jumlah terbesar di dunia. Tidak hanya untuk berinteraksi dan ajang berekspresi, mahasiswa juga butuh informasi. Tidak perlu menunggu masa kampanye politik, gosip dan kabar bohong, alias hoaks juga bertebaran di sini. Apa cara kritis mahasiswa hadapi hoaks?
Sebelumnya, mahasiswa harus memahami dengan benar dulu mengenai hoaks. Tidak hanya ciri-cirinya, namun juga bahayanya. Apalagi, arus penyebaran informasi yang super cepat lewat media sosial juga mempengaruhi perilaku user. Hanya baca sekilas tanpa memahami, lalu langsung share.
Nah, mahasiswa yang cerdas sebaiknya tidak ikut-ikutan seperti itu. Inilah lima (5) cara kritis mahasiswa hadapi hoaks, agar tidak ikut menambah kepanikan yang tidak perlu:
1) Membaca lebih dari sekali sebelum memutuskan untuk share.
Ingat, sebagai mahasiswa, kamu dituntut untuk banyak membaca, menganalisis, dan berpikir kritis. Bila buku kuliah tebal saja kamu sanggup membaca, apalagi artikel pendek berkategori ‘antah-berantah’ di dunia maya.
Beberapa ciri berita hoaks adalah: judulnya yang bombastis (kadang pakai tanda seru berlebihan), alamat website mencurigakan (lebih mirip blog pribadi ketimbang website resmi media), hingga isi beritanya yang tidak didasarkan fakta jelas. Bahkan, dalam beberapa kasus ada kalimat dengan typo yang sangat parah.
Isi berita juga kebanyakan menyebarkan kebencian atau pemujaan berlebihan terhadap segala sesuatu atau seseorang.
2) Mencari sumber artikel dari media lain sebagai perbandiangan
Bila saat mengerjakan skripsi atau disertasi butuh berbagai sumber, ini juga berlaku untuk memastikan berita tertentu bukan hoaks. Untuk cara kritis mahasiswa hadapi hoaks, carilah sumber artikel dari media lain sebagai perbandingan. (Itu kalau kamu beneran penasaran dengan berita tersebut, lho.)
Misalnya: kamu ingin mengetahui berita terbaru tentang politisi tertentu. Bila berita yang kamu terima mencurigakan, coba bandingkan dengan minimal tiga sumber artikel dari media resmi lainnya. Bila tidak sesuai atau ada media yang mengklarifikasi kabar tersebut, berarti artikel pertama adalah hoaks.
3) Konfirmasi dengan teman yang seminat atau bahkan dosen
Masih penasaran juga dengan kebenaran artikel itu? Selain membandingkannya dengan sumber artikel lain, kamu juga boleh berdiskusi dengan teman yang seminat atau bahkan dosen. Tapi, pastikan teman bukan tipe penyebar hoaks dan dosennya juga terpercaya.
4) Jangan mudah terpancing emosi dengan teman yang hobi menyebar hoax
Sekarang sudah zaman mahasiswa membuat grup Whatsapp atau media sosial lainnya. Misalnya: grup Whatsapp untuk satu angkatan hingga satu jurusan. Selain untuk menjalin keakraban alias networking, grup ini berfungsi sebagai tempat saling berbagi informasi.
Sayangnya, ada saja teman yang hobi menyebar hoaks. Daripada mudah terpancing emosi, lebih baik kamu tegur dia baik-baik secara pribadi. Lengkapi juga dengan bukti bahwa yang mereka sebar itu berita bohong yang dapat meresahkan teman-teman lain di grup.
Bila teman bersikeras dan semakin mengganggu, kamu bisa meminta tolong admin grup agar menindak mereka.
5) Tidak ikut menyebar hoax meskipun untuk klarifikasi
Ini juga cara kritis mahasiswa hadapi hoaks. Meskipun sudah tahu bahwa berita itu bohong dan hanya ingin mengklarifikasi, jangan langsung share dari sumber aslinya. Yang ada, pemilik website mendapat untung dari banyaknya view ke konten mereka.
Jika ingin sedikit repot, cukup buat screenshot judul artikel dan share screenshot tersebut, lengkap dengan klarifikasinya. Bila tidak, jangan terpancing untuk menyebarkan hoaks.
5. Cara membangun sikap kritis
1) Sering Bertanya
Kritis dimulai dari rasa penasaran dan keingintahuan yang tinggi. Anda ingin membangun sikap kritis maka salah satu cara yang paling mudah jelas bertanya. Dengan bertanya anda bisa mengajukan berbagai argumen atau sesuatu yang jelas membuat anda penasaran. Namun jangan coba-coba untuk membandingkan atau bahkan membalikan sesuatu yang tidak baik, terutama pada orang-orang yang ingin anda ketahui atau ingin anda jadikan inspirasi untuk membangun rasa kritis. Sering bertanya juga bisa membantu anda melihat seperti apa atau sejauh mana rasa kritis anda terbangun. Bertanyalah pada sesuatu yang tepat dan coba untuk bertanya pada hal yang memang patut untuk ditanyakan.
2) Jauhi Lingkungan Buruk
Apakah anda percaya bahwa lingkungan buruk mempengaruhi anda sangat banyak ? maka jawabannya adalah benar sekali. Bahkan pikiran dan sikap anda bisa saja berubah ke hal yang buruk jika anda berada di lingkungan tidak mencerminkan sikap baik sama sekali.
Pikiran anda menjadi tumpul dan merasa bahwa hal tersebut bukanlah masalah besar dan tidak memberikan dampak buruk. Mereka yang tinggal di lingkungan perampok pasti akan berpikir bahwa mencuri bukanlah hal besar dan itu cara mereka bertahan hidup. Dengan pemikiran seperti itu bagaimana bisa anda mendapatkan sikap yang kritis. Anda yang memang tinggal di lingkungan buruk tidak sepenuhnya buruk dan tidak bisa membangun sikap kritis, jika anda bisa melawannya balik tentu anda akan berubah dan bisa menjadi lebih hebat!
3) Tantang Diri Sendiri
Ketika anda ingin mengasah kekuatan analisa anda, maka akan lucu jika hanya bermain di zona nyaman. Bagaimana anda tahu seberapa hebat diri anda jika tidak pernah bermain dalam sebuah arena games. Begitupun cara yang tepat untuk membangun sikap kritis dalam diri anda. Terus menerus berada di zona nyaman tidak akan membantu anda untuk tumbuh dewasa dan juga berkembang. Justru sebaliknya, yang ada anda hanya akan berlindung dan ketika masalah datang anda tidak akan bisa menghadapinya. Cobalah untuk mulai menantang diri sendiri dengan berbagai hal yang dianggap sulit, hal ini akan membantu anda untuk berpikir dan bersikap lebih kritis. Kenapa hal tersebut harus dilakukan, apa saja yang harus anda pikirkan, solusinya bagaimana dan jika berhasil melewatinya. Dijamin anda akan ketagihan dan tentu rasa percaya diri akan meningkat tajam.
4) Banyak Belajar
Anda harus banyak belajar untuk menjadi seseorang yang kritis, semua orang mencoba belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik, termasuk membangun sikap kritis dari sana. Banyak belajar bukan hanya teori saja namun anda harus mengaplikasikannya dengan jelas. Pemikiran yang anda bangun untuk menjadi kritis bisa dimulai dari belajar dan belajar. Tidak perlu khawatir tempat, waktu selama anda mencoba mempelajarinya.
5) Peduli
Bagaimana anda bisa bersikap kritis jika rasa peduli anda benar-benar rendah ? sikap kritis bisa terbangun dari rasa keingintahuan dan juga seringnya pikiran kritis digunakan dalam situasi tertentu. Bagaimana bisa terbangun jika rasa ingin tahu anda benar-benar rendah. Pertama anda harus tingkatkan rasa peduli yang anda miliki. Jika membicarakan mengenai, anda tidak ingin terlibat dengan urusan orang lain maka mulai dari diri sendiri. Bagian mana yang bisa membantu anda berpikiran kritis, dan bagian dari hidup anda yang mana yang harus diperhatikan dengan benar-benar.
6.Mengembangkan pemikiran kritis mahasiswa
Model Alison King :
King (1995) mengajukan tiga cara untuk mengembangkan pemikiran kritis mahasiswa,
yakni:
a. Tanya-jawab dengan teman secara timbal-balik
Pertama, dosen memberikan kuliah mengenai satu topik. Setelah itu, mahasiswa diminta menulis tiga pertanyaan (berdasarkan daftar pertanyaan-pertanyaan yang ada pada tabel 1) tentang bahan kuliah yang diajarkan tadi. Kemudian mahasiswa dibagi dalam pasangan pasangan atau dalam kelompok kecil untuk melakukan tanya-jawab secara timbal balik.
Masing-masing mahasiswa akan mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa lain, dan pada gilirannya mahasiswa itu akan menjawab pertanyaan dari mahasiswa lain. Pada tahap terakhir keseluruhan kelas akan menjawab sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang telah diajukan dan mendiskusikan lebih lanjut hal-hal yang muncul dalam sesi tanya-jawab.
b.Pertanyaan-pertanyaan pembaca.
Meminta mahasiswa untuk melakukan tugas membaca bahan kuliah sebelum kuliah
dimulai merupakan problem abadi yang dihadapi dosen. Untuk memotivasi mahasiswa
membaca bahan kuliah, maka sebelum kuliah berlangsung mahasiswa diwajibkan
mengumpulkan tiga atau empat pertanyaan generik (lihat tabel 1). Pertanyaan-pertanyaan yang dikumpulkan mahasiswa tersebut dapat dipakai dalam diskusi dikelas. Pertanyaan-pertanyaan mahasiswa tersebut juga dapat menggambarkan tingkat pemahaman mahasiswa, atau bahkan apakah mahasiswa sudah membaca tugas bacaan atau belum. Soal-soal ujian akhir bisa juga diambil dari kumpulan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mahasiswa.
c.Penerapan untuk mahasiswa perorangan
Dalam cara ini sesudah mendengarkan kuliah atau membaca bahan kuliah maka
seseorang mahasiswa diminta membuat sejumlah pertanyaan-pertanyaan.
7.Mengatasi berita hoax
1.Hati-hati dengan judul provokatif
2.Cermati alamat situs
3.Periksa fakta
4.Cek keaslian foto
5.Ikut serta grup diskusi anti-hoax
BAB 3
PENUTUP
A.Kesimpulan
Sebagai mahasiswa kita harus bersikap kritis saat menghadapi hoax, mencegah, mengatasi serta menghilangkan hoax yang disebarkan secara sengaja di media social, kita harus mengetahu sumber, fakta berita tersebut sebelum memberitahu orang lain.
B.Saran
Penulis tentunya masih menyadari jika makalah diatas masih terdapat banyak kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada banyak sumber serta kritik yang membangun dari para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
https://sosmedkini.wordpress.com/pengertian-media-sosial/
https://www.bulelengkab.go.id/detail/artikel/pengertian-hoax-dan-ciri-cirinya-41
https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/4KZ6rAqK-mengenal-7-jenis-hoaks,
Jessica, 2019, 5 Cara Kritis Mahasiswa Hadapi Hoaks
https://www.educenter.id/5-cara-kritis-mahasiswa-hadapi-hoaks/, 8 april 2020
DebrillaIvanadyaPang, 2018, Bagaimana cara membangun sikap kritis ?, https://www.dictio.id/t/bagaimana-cara-membangun-sikap-kritis/109786, 8 april 2020
Dicky Hastjarjo, 1999, MENGEMBANGKAN PEMIKIRAN KRITIS
MAHASISWA, 8 april 2020
Yunita, 2017, Ini Cara Mengatasi Berita “Hoax” di Dunia Maya, https://kominfo.go.id/content/detail/8949/ini-cara-mengatasi-berita-hoax-di-dunia-maya/0/sorotan_media, 8 april 2020
syaiful abid, 2019, kesantunan berbahasa mahasiswa terhadap dosen dimedia social whatsapp, jurnal prosiding seminar nasional bulan Bahasa(semiba)2019, 230-244